Kupang, - Musyawarah Besar (Mubes) Lamaholot Lima Etnis—Solor, Adonara, Daratan Larantuka, Lembata, dan Alor—yang berlangsung di Kota Kupang pada 24 Januari 2026, adalah peristiwa budaya yang meneguhkan kembali jati diri orang Lamaholot di tanah rantau. Ia bukan sekadar forum organisasi, melainkan lewo—rumah bersama—tempat nilai, ingatan, dan persaudaraan Lamaholot dipertemukan dan dirawat.
Dalam tradisi Lamaholot, persaudaraan tidak lahir dari kesamaan wilayah semata, tetapi dari koda—hukum adat yang mengikat manusia dalam relasi saling menghormati, saling menjaga, dan saling bertanggung jawab. Pesan Ketua Paguyuban Lamaholot periode sebelumnya, Dr. John Kotan, SH., M.Hum, bahwa Paguyuban Lamaholot senantiasa tetap ada untuk kita semua, sejatinya merupakan penegasan nilai kultural tersebut. Paguyuban adalah ruang adat modern, tempat koda diterjemahkan dalam konteks kehidupan sosial masa kini.
Kehadiran perwakilan lima etnis Lamaholot dalam Mubes ini mencerminkan wajah Lamaholot yang utuh: beragam dalam asal-usul, namun satu dalam nilai. Solor, Adonara, Daratan Larantuka, Lembata, dan Alor memiliki sejarah, dialek, dan dinamika sosial yang berbeda, tetapi disatukan oleh kesadaran sebagai satu keluarga besar Lamaholot. Perbedaan itu bukan sekat, melainkan tenunan budaya yang memperkaya identitas bersama.
Sambutan perwakilan etnis Solor, Benediktus Belang Niron, menguatkan makna tersebut. Penegasan bahwa Lamaholot harus terus berkiprah sebagai media perekat satu sama lain selaras dengan falsafah adat Lamaholot yang menempatkan relasi antarmanusia sebagai pusat kehidupan. Dalam pandangan budaya Lamaholot, hidup bermakna ketika sesama tetap terikat dalam persaudaraan—baik dalam suka maupun duka, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau.
Terpilihnya Don Arakian, sesepuh dari etnis Adonara, sebagai Ketua Paguyuban Lamaholot yang baru, juga memiliki makna kultural yang dalam. Dalam tradisi Lamaholot, sesepuh bukan hanya simbol usia, melainkan penjaga nilai, penutur sejarah, dan penimbang kebijaksanaan. Kepemimpinan sesepuh diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara adat dan perubahan zaman, antara tradisi dan tantangan generasi muda.
Mubes Lamaholot di Kupang menjadi penanda bahwa budaya tidak berhenti di tanah asal. Ia hidup, bergerak, dan beradaptasi bersama manusia pendukungnya. Paguyuban Lamaholot adalah cara orang Lamaholot merawat identitasnya di ruang modern, tanpa kehilangan akar adatnya.
Keberhasilan penyelenggaraan Mubes ini tentu tidak terlepas dari kerja sunyi dan gotong royong panitia. Di bawah kepemimpinan Ketua Panitia Bapak Rudi Tokan, serta didukung oleh Bapak Lukman dan seluruh unsur kepanitiaan, Mubes Lamaholot dapat berlangsung tertib, bermartabat, dan sarat makna kultural. Dalam semangat Lamaholot, kerja panitia bukan sekadar tugas teknis, melainkan bentuk pengabdian adat tite lewo dan koda mengabdi pada rumah bersama dan menjaga persaudaraan tetap utuh.
Pada akhirnya, Mubes ini menegaskan satu pesan utama: selama koda persaudaraan dijaga dan lewo bersama dirawat, Lamaholot akan tetap hidup, bukan hanya sebagai nama watan/etnis, tetapi sebagai nilai yang mengikat, menguatkan, dan memanusiakan. Dari Kupang, semangat Lamaholot kembali diteguhkan: satu dalam darah, satu dalam adat, satu dalam persaudaraan..(*Penulis Benediktus Belang Niron. )
.png)