Eurico Guterres: Dari Pemimpin Milisi Aitarak hingga Kancah Politik Nasional




Jakarta — Eurico  Guterres kembali menjadi sorotan publik setelah perjalanan panjangnya dari tokoh milisi pro-integrasi Timor Timur hingga tampil dalam berbagai panggung politik nasional. Lahir di Waitame, Uatolari, Viqueque, pada 4 Juli 1969, Eurico dikenal sebagai salah satu figur paling kontroversial dalam sejarah modern Timor Timur.



Masa muda Eurico dihabiskan di Dili, meski pendidikannya terhenti sebelum menamatkan SMA. Pada periode ini, ia dikenal terlibat dalam aktivitas premanisme kecil, termasuk menjaga arena perjudian tradisional di Tacitolu.



Titik balik muncul pada tahun 1988 ketika ia ditangkap intelijen militer Indonesia terkait tuduhan rencana pembunuhan Presiden Soeharto. Setelah kejadian itu, sikap politiknya berubah drastis dari simpatisan pro-kemerdekaan menjadi pendukung integrasi dengan Indonesia.



Ia kemudian direkrut sebagai informan militer dan memiliki hubungan dekat dengan aparat keamanan, khususnya Kopassus. Pada 1994, Prabowo Subianto yang saat itu bertugas dalam operasi kontra-pemberontakan, menarik Eurico masuk ke Gardapaksi, organisasi yang berfungsi ganda sebagai wadah ekonomi rakyat dan jaringan pro-integrasi.



Peran dalam Milisi dan Tuduhan Kekerasan 1999

Nama Eurico mencuat menjelang referendum Timor Timur 1999 ketika ia menjabat sebagai Komandan Milisi Aitarak di Dili sekaligus Wakil Panglima Milisi Pro-Indonesia. Perannya pada masa itu membuatnya dikenal luas, namun juga dikaitkan dengan berbagai aksi kekerasan.



Ia dituding terlibat dalam sejumlah peristiwa kelam, termasuk Pembantaian Liquiçá pada April 1999 serta kerusuhan dan penghancuran kota pasca-referendum. Pada 2002, pengadilan menjatuhkan vonis 10 tahun penjara, yang mulai dijalaninya pada 2006. Namun pada 2008, Mahkamah Agung mengabulkan peninjauan kembali dan membebaskannya setelah ditemukannya bukti baru.



Aktivitas Pasca-Timor Timur: Laskar Merah Putih

Kontroversi kembali mengiringi Eurico ketika pada Agustus 2003 ia membentuk Laskar Merah Putih di Papua. Organisasi ini disebut memiliki sekitar 200 anggota dari berbagai daerah, memicu kekhawatiran aktivis HAM karena sensitivitas situasi keamanan di wilayah tersebut.

Perjalanan Politik

Di luar dunia milisi, Eurico aktif dalam jalur politik formal. Ia pernah duduk sebagai anggota DPRD Timor Timur melalui Fraksi Golkar pada 1999–2004. Sepanjang kariernya, ia tercatat berpindah beberapa partai, mulai dari Golkar, PDI Perjuangan, PAN, Perindo, hingga akhirnya bergabung dengan Partai Gerindra pada 2021.



Ia juga menjabat sebagai Ketua Umum Uni Timor Aswain hampir selama satu dekade (2010–2019) dan pernah memimpin DPW serta DPP PAN.



Pada 12 Agustus 2021, Eurico menerima Bintang Jasa Utama dari pemerintah, yang memicu perdebatan publik mengenai rekam jejaknya dan makna rekonsiliasi nasional.

Figur yang Tetap Diperdebatkan

Bagi sebagian pihak, Eurico merupakan simbol keberpihakan pada NKRI. Namun bagi yang lain, ia adalah representasi dari konflik dan pelanggaran HAM yang membekas di Timor Timur dan Papua.



Hingga kini, nama Eurico Guterres masih menimbulkan pro dan kontra, dan kisah hidupnya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah konflik dan politik Indonesia.