ATAMBUA – SD Negeri Fohomane yang terletak di Desa Lakanmau, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, kini menarik perhatian masyarakat dan wisatawan berkat pesona alam yang dimilikinya. Berada di kawasan perbukitan dengan panorama pegunungan yang memukau, sekolah ini mulai dikenal sebagai “Sekolah di Atas Awan” sekaligus destinasi ekowisata baru di wilayah perbatasan.
Keindahan alam yang terbentang di belakang gedung sekolah menjadi daya tarik utama. Tidak sedikit warga maupun pengunjung yang datang untuk menikmati pemandangan pegunungan yang asri dan suasana sejuk khas dataran tinggi. Dari halaman sekolah, hamparan alam hijau terlihat begitu memanjakan mata dan menghadirkan ketenangan bagi siapa saja yang berkunjung.
Perubahan wajah SDN Fohomane tidak lepas dari peran Kepala Sekolah, Robinson Alberto Udju. Melalui berbagai inovasi, ia berhasil mengembangkan konsep sekolah berbasis lingkungan yang mengintegrasikan pendidikan dengan pelestarian alam.
Dengan mengusung moto “Fohomane Green, Smart, and Clean” atau “Hijau, Cerdas, dan Bersih”, Robinson mengajak seluruh warga sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, sehat, dan berkelanjutan. Para siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan di dalam kelas, tetapi juga diajarkan untuk mencintai dan menjaga alam yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.
Tidak hanya menawarkan keindahan panorama pegunungan, SDN Fohomane juga menghadirkan Taman Doa Ina Matak Malirin yang dibangun di area sekolah. Kehadiran taman doa tersebut memberikan nuansa spiritual sekaligus menjadi nilai tambah bagi sekolah. Pengunjung dapat berdoa dan bermeditasi sambil menikmati udara segar serta suasana damai yang khas di kawasan perbatasan Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste.
Menurut Robinson, pengembangan konsep ekowisata sekolah selaras dengan karakter wilayah Lasiolat yang hijau dan alami. Ia berharap lingkungan yang indah dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi peserta didik.
“Kami ingin anak-anak bangga dengan sekolahnya. Ketika lingkungan indah, bersih, dan cerdas, maka semangat belajar ikut tumbuh. Kami membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berkunjung, dengan tetap menjaga kebersihan dan menghormati proses belajar mengajar yang berlangsung,” ujarnya.
Keberhasilan SDN Fohomane menunjukkan bahwa sekolah di daerah terpencil pun mampu menjadi pusat inovasi dan perhatian publik apabila dikelola dengan visi yang jelas. Perpaduan antara pendidikan, wisata alam, dan nilai-nilai spiritual menjadikan sekolah ini sebagai contoh bagaimana lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang efektif sekaligus destinasi yang menarik.
Dari lereng pegunungan Lasiolat, SDN Fohomane kini tidak hanya mencetak generasi muda yang cerdas, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Sebuah kisah inspiratif yang menambah warna baru bagi dunia pendidikan di Kabupaten Belu.(*)
