ZONAline
Memuat teks berita berjalan terbaru...
ZONALINE-NEWS

Kolaborasi RS Ben Mboi dan Pemkot Kupang: Prioritaskan Penanganan Pasien Darurat Tanpa Hambatan Biaya

 



KUPANG — Rumah Sakit (RS) Ben Mboi berkomitmen penuh untuk menghapus stigma rumah sakit pemerintah yang identik dengan kesan kumuh, jorok, dan mahal. Melalui serangkaian program inovasi serta penguatan kolaborasi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, RS Benboi menegaskan visinya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).


Hal tersebut disampaikan langsung oleh pihak manajemen RS Ben Mboi dalam sesi wawancara bersama sejumlah media online jumad, 16/10 di ruang kerjanya. Direktur Utama RSUP Ben Mboi Dr. Robinzon Gunawan Fanggidae, Sp.An di dampingi Direktur Perencanaan Keuangan & Layanan Operasional (PKLO) Rilly Roemokoy, S.E, M.M dan dr. Elisa Laura Sitohang Sp.PA sebagai Manajer Hukmas mengatakan Pihak rumah sakit menekankan bahwa kemegahan gedung baru RS Benboi sengaja didedikasikan oleh pemerintah pusat untuk menunjang psikologis dan kenyamanan pasien, bukan untuk memicu kesan biaya yang mahal.


Prioritas Penanganan Pasien dan Layanan Gratis


Layanan antar jemput pasien darurat, dan rawat jalan darurat

RS Ben Mboi menerapkan regulasi yang selaras dengan kebijakan rumah sakit pemerintah pada umumnya, yakni melayani pasien program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan secara menyeluruh. Skema pembiayaan ini mencakup layanan rawat jalan, rawat inap, tindakan operasi, hingga kemoterapi.


"Prinsip kami adalah menolong pasien terlebih dahulu, terutama dalam kondisi gawat darurat. Urusan administrasi dan pembiayaan bisa diselesaikan di belakang. Kami tidak ingin ada masyarakat yang takut berobat atau memilih pasrah di rumah karena kendala biaya," ujar Robinzon.


Untuk memperluas jangkauan operasional, RS Benboi telah menjalankan program antar-jemput pasien menggunakan armada ambulans yang telah berjalan selama hampir dua tahun. Layanan jemputan gratis ini diprioritaskan bagi pasien di wilayah Kota Kupang yang mengalami keterbatasan fisik berat, seperti penderita stroke atau pasien tidak sadarkan diri.


Tidak hanya itu, RS Ben Mboi juga membuka jalur koordinasi khusus untuk menjemput pasien rujukan dari luar pulau (seperti Alor, Rote, Flores, dan Sumba) langsung di pelabuhan begitu kapal bersandar, guna memotong rantai kesulitan transportasi bagi pasien daerah.


Inovasi Fasilitas: Taman Healing dan Ruang Tunggu Los Keluarga

Taman healing yang masih dalam tahap finishing


Guna meningkatkan kualitas pelayanan, RS Ben Mboi menginisiasi pembangunan fasilitas penunjang medis di area rumah sakit. Salah satunya adalah pembuatan taman healing yang dilengkapi dengan akses kursi roda terintegrasi, yang dirancang khusus untuk mengurangi tingkat stres bagi pasien yang menjalani rawat inap jangka panjang.


Selain itu, RS Ben Mboi tengah merampungkan pembangunan area khusus bagi keluarga penemu pasien di bagian belakang rumah sakit. Mengingat karakteristik sosial masyarakat NTT yang kerap mengantar pasien dalam jumlah banyak, fasilitas yang dirancang menyerupai bangunan los atau area lesehan komunal ini dibangun agar keluarga pasien dapat beristirahat dengan layak.


Fasilitas los keluarga ini dilengkapi dengan ruang santai, akses air minum, kamar mandi yang bersih, serta pengeras suara (toa) terintegrasi yang terhubung dengan ruang perawatan utama. Dengan demikian, kebersihan, kerapian, dan estetika gedung utama rumah sakit tetap dapat dipertahankan dari kesan semrawut.


Kantin dengan suasana dan nuansa ala cafe, modern dan bersih

Sinergi Lintas Sektor dan Program Pengampuan Daerah


RS Ben Mboi secara aktif membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga, seperti Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk penanganan korban kekerasan, Yayasan Kanker, serta Dinas Sosial. Langkah kolaboratif ini juga diperluas melalui penjajakan sinergi dengan Wali Kota Kupang dan jajaran Pemkot Kupang demi mempermudah akses rujukan bagi warga kota yang posisinya jauh dari RSUD SK Lerik.


Sebagai rumah sakit rujukan terakhir yang memiliki kapasitas 220 tempat tidur, RS Ben Mboi kerap menghadapi tantangan berupa membludaknya pasien dengan kasus-kasus medis berat, yang memicu masa perawatan lebih lama serta penumpukan di Unit Gawat Darurat (UGD).


Untuk mengatasinya, RS Benboi kini mengoptimalkan program pengampuan medis yang dimandatkan oleh Kementerian Kesehatan. Melalui program ini, RS Ben Mboi dan RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang bertindak sebagai pengampu yang membina dan meningkatkan standar pelayanan rumah sakit di tingkat kabupaten/daerah. Dengan penguatan fasilitas di daerah, kasus-kasus yang dapat ditangani secara lokal tidak perlu menumpuk di Kota Kupang, kecuali untuk penanganan spesifik yang membutuhkan rujukan tingkat akhir. (wan)