Zonalinenews – Kupang,- Lebih dari satu tahun berlalu, keluarga masih berjuang mencari keadilan atas kematian tragis Delvi Susana Foes dan Lucky Sanu yang terjadi pada 9 Maret 2024 di Kota Kupang. Kasus yang awalnya disebut sebagai kecelakaan lalu lintas tunggal itu, kini perlahan membuka banyak tanda tanya dan dugaan kuat adanya tindak pidana pembunuhan.
Fijer Epesus Foes, ayah mendiang Delvi, mengungkapkan bahwa sejak awal pihak keluarga menerima kabar kematian anaknya dengan penuh duka dan kebingungan. Informasi pertama yang diterima menyebutkan bahwa peristiwa itu hanyalah kecelakaan tunggal, sehingga penanganan dilakukan oleh Satuan Lalu Lintas Polresta Kupang Kota.
Namun, seiring waktu, muncul berbagai kejanggalan yang membuat keluarga curiga bahwa kematian dua anak muda itu bukanlah kecelakaan biasa. “Ada banyak hal yang tidak masuk akal, dari posisi tubuh hingga kondisi kendaraan. Kami yakin, ini bukan lakalantas tunggal,” ungkap Fijer dengan suara berat menahan tangis.
Fijer menambahkan, pihak Satlantas Polresta Kupang Kota sempat mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dengan alasan kurang bukti. Namun sebelum SP3 itu resmi diterbitkan, keluarga sudah lebih dulu melapor ke Polda NTT agar kasus ini diselidiki lebih mendalam.
Sementara itu, kuasa hukum keluarga korban, Imbo Tulung , mengungkapkan bahwa sebelum peristiwa tragis itu, sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara korban dan sekelompok orang.“Jadi bukan langsung jatuh begitu saja. Ada serangkaian kejadian sebelum ‘lakalantas’ yang perlu didalami. Ini bisa menjadi kunci untuk mengungkap penyebab sebenarnya kematian mereka,” jelas Imbo.
Menurut Imbo, berdasarkan informasi terbaru dari penyidik Polda NTT, kasus ini telah naik ke tahap penyidikan (sidik) sebagaimana tertuang dalam surat SP2HP yang diterima pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Meski begitu, bagi keluarga korban, waktu berjalan begitu lambat. Luka kehilangan belum sembuh, sementara keadilan masih terasa jauh.“Yang kami minta hanya satu: kebenaran. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak kami,” ujar Fijer lirih di sela-sela kegiatan Aksi Seribu Lilin untuk mengenang Delvi dan Lucky di Oesapa Barat. (*)
