KABELA Kupang dan Puluhan Paguyuban Bersinergi dengan Parekraf NTT Kembangkan Wisata Budaya




Kota Kupang, 17 April 2026 – Keluarga Besar Lamaholot (KABELA) Kupang bersama berbagai paguyuban lintas etnis di Kota Kupang menghadiri pertemuan strategis yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (17/4/2026).


Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat sinergi dengan paguyuban daerah guna mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya serta pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.


Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Dinas Parekraf NTT tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam menghidupkan kawasan wisata unggulan seperti Pantai Lasiana dan Kampung Seni Flobamora sebagai pusat ekspresi budaya di Kota Kupang.


Selain itu, forum ini juga menjadi wadah koordinasi dan penyamaan persepsi antar paguyuban dalam merancang konsep partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai event budaya. Program yang direncanakan meliputi pementasan seni dan budaya, pameran kuliner khas daerah, promosi produk ekonomi kreatif, hingga edukasi budaya.


Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, M.Si, menegaskan bahwa paguyuban memiliki peran penting dalam menggerakkan sektor pariwisata daerah.


“Paguyuban memiliki potensi besar dalam menghadirkan event budaya yang autentik dan berdaya tarik. Ini harus dimaksimalkan untuk mendukung sektor pariwisata,” ujarnya.


Ia  menyampaikan Pemprov NTT sangat berharap peran aktif untuk mendukung pemerintah dalam mempromosikan produk budaya setiap etnis.


Dalam kesempatan tersebut, Kadis Parekraf NTT juga memberikan apresiasi terhadap Festival Budaya Lamaholot yang dinilai mampu menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus daya tarik wisata di NTT.


Pertemuan ini turut melibatkan berbagai paguyuban di Kota Kupang, di antaranya Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT, Komunitas Kita Bersaudara Maumere (KKBM), Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKKEF), Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (IKEBANA), Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR), Ikatan Keluarga Ngada (IKADA), Ikatan Keluarga Lembata (IKL), Ikatan Keluarga Besar Hailiteik Rote, Ikatan Keluarga Besar Bimafo Kupang, Kerukunan Keluarga Belu Malaka (KKBM), Ikatan Keluarga Besar Lamaholot, Ikatan Keluarga Besar Sabu Raijua, Ikatan Keluarga Asal Sumba (IKAS), Ikatan Keluarga Kepulauan Alor (IKKA), Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Ikatan Keluarga Minang Saiyo Sakato (IKMSS), Perkumpulan Keluarga Pasundan Mangle (PKPM), Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Keluarga Jawa-NTT, Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) Etnis Bali, Kerukunan Keluarga Bima Dompu (KKBD), Kerukunan Keluarga Toraja (KKT), Himpunan Keluarga Asal Maluku Barat Daya (HIKAMABAD), Kerukunan Keluarga Kawanua di Mamasa (K3M), Ikatan Keluarga Besar Batak (IKBB) Saroha, Kerukunan Keluarga Madura Flobamora (KKMORA), Ikatan Keluarga Asal Maluku (IWASMA), Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) NTT, Ikatan Keluarga Lombok (KKL), Kerukunan Keluarga Besar Papua, serta Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST).


Ketua KABELA Kupang, Donatus Ara Kian, menyambut baik hasil pertemuan tersebut dan menyatakan kesiapan pihaknya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya. 


Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan paguyuban dapat terus diperkuat guna menghadirkan event budaya yang berkualitas dan berkelanjutan.


“Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimis pariwisata NTT akan semakin berkembang dan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan,” ungkapnya.


Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kerja sama yang lebih solid antara pemerintah dan paguyuban budaya untuk menjadikan NTT sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya yang unggul di tingkat nasional maupun internasional. (*)