Kupang — Langkah politik strategis kembali dimainkan Wali Kota Kupang, Christian Widodo. Melalui pelantikan Isodorus Lilijawa sebagai Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Lontar periode 2025–2030, Christian seolah mengirim pesan tegas: urusan air bersih Kota Kupang kini dikendalikan figur berpengalaman dengan jam terbang politik tinggi.



Pelantikan berlangsung di Aula Garuda Kantor Wali Kota Kupang, Senin (29/9/2025), disaksikan jajaran Pemerintah Kota Kupang serta tamu undangan. Christian Widodo didampingi Wakil Wali Kota Serena Francis, menegaskan bahwa jabatan strategis ini bukan sekadar administratif, melainkan bagian dari agenda besar pembenahan pelayanan publik yang selama ini menjadi sorotan masyarakat.


“Kita berharap direktur yang baru mampu meningkatkan kinerja Perumda Tirta Lontar, memperluas cakupan layanan, serta menghadirkan inovasi nyata dalam pengelolaan air bersih bagi masyarakat Kota Kupang,” tegas Christian dalam sambutannya.



Berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Kupang, jabatan Direktur Perumda Tirta Lontar diganjar gaji Rp13 juta per bulan. Namun, lebih dari sekedar angka, posisi ini dinilai sebagai simpul penting kekuasaan ekonomi dan pelayanan publik di Kota Kupang, terutama di tengah krisis air bersih yang masih menjadi keluhan warga.



Nama Isodorus Lilijawa, yang akrab disapa Iso, bukan sosok baru dalam pusaran politik lokal. Ia pernah duduk sebagai anggota DPRD Kota Kupang periode 2009–2014, serta lama berkiprah di Partai Gerindra, bahkan menjabat Sekretaris DPC Gerindra Kota Kupang. Rekam jejak politiknya diperkuat dengan penghargaan dari Lembaga Diklat Partai Gerindra tahun 2011.



Namun, menjelang pelantikan, Iso mengambil langkah tegas dengan mengundurkan diri dari seluruh struktur dan aktivitas politik Gerindra sejak 1 September 2025, menandai akhir kiprah politiknya yang telah berlangsung sejak 2004. Langkah ini dipandang sebagai sinyal repositioning: dari politisi ke teknokrat yang siap diuji kinerjanya.



Dari sisi akademik, Iso menempuh pendidikan di SMA Seminari Santo Yohanes Brekhmans Todabelu, meraih S1 di STFK Ledalero, serta S2 di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Ia juga aktif di berbagai organisasi, di antaranya Ketua Bidang IPTEK Vox Point dan Ketua Paguyuban Souverdi Kupang.



Setelah resmi menjabat, tantangan besar langsung menanti. Iso menyoroti piutang pelanggan Perumda Tirta Lontar yang mencapai Rp4,7 miliar, akibat pemutusan sementara dan permanen layanan. Menjawab persoalan tersebut, ia meluncurkan Program “Buka Segel” pada Senin, 17 November 2025, di halaman kantor PDAM Kota Kupang.



Program ini menawarkan skema keringanan yang dinilai populis dan politis: pelanggan cukup membayar 50 persen tunggakan, sisa tunggakan dapat dicicil, serta seluruh denda dihapus. Kebijakan ini langsung menyedot perhatian publik dan dinilai sebagai ujian awal kepemimpinan Iso dalam meramu antara keberpihakan sosial dan keberlanjutan keuangan perusahaan daerah.


Publik kini mencatat satu babak penting pemerintahan Christian Widodo: menarik Iso ke pusat kendali air Kota Kupang. Apakah langkah ini akan menjawab krisis air bersih yang telah lama dikeluhkan warga, atau justru membuka dinamika baru dalam politik pengelolaan sumber daya vital, waktu dan kinerja yang akan menjawabnya.  (*)