Solor Watan Lema dan Galiau: Jejak Sejarah Lamaholot dalam Lima Kerajaan Pesisir Alor–Pantar




Konsep Galiau yang dicatat dalam Van Galen’s Memorandum on the Alor Islands tahun 1946 kini semakin menemukan maknanya ketika dihubungkan dengan sejarah besar Solor Watan Lema dalam tradisi Lamaholot. Apa yang oleh administrasi kolonial Belanda disebut sebagai Vijf Kustrijken (Lima Kerajaan Pesisir) sesungguhnya dapat dibaca sebagai terjemahan administratif dari sistem adat dan kekerabatan Lamaholot yang telah hidup jauh sebelum kedatangan kolonialisme.



Dalam sejarah lisan Lamaholot, Solor Watan Lema dipahami sebagai pusat asal-usul peradaban, tempat lima negeri adat pertama membangun tatanan kosmologi, hukum adat, dan sistem kepemimpinan. Dari Solor inilah orang Lamaholot menyebar ke Adonara, Lembata, hingga ke Alor dan Pantar melalui jalur laut. Penyebaran ini bukan hanya migrasi fisik, tetapi juga penyebaran sistem nilai, struktur sosial, dan ikatan genealogis.


Sementara itu, Van Galen dalam memorandumnya menggambarkan Galiau sebagai suatu ikatan lima kerajaan pesisir, yaitu Kerajaan Kui, Bunga Bali, Blagar, Pandai, dan Baranusa/Baranua. Dalam bahasa Belanda, ikatan ini diterjemahkan sebagai Vijf Kustrijken. Hans Hägerdal, selaku editor dan penerjemah memorandum tersebut, menegaskan bahwa istilah ini merupakan cara pandang kolonial untuk menyederhanakan struktur politik dan kultural lokal yang sebenarnya jauh lebih kompleks.



Bila disandingkan, tampak jelas bahwa pola “lima” dalam Vijf Kustrijken memiliki kesamaan langsung dengan konsep Watan Lema. Bagi orang Lamaholot, “lima” bukan sekadar jumlah, melainkan simbol kosmologis yang melambangkan keseimbangan, persatuan, dan asal-usul bersama. Dengan demikian, Galiau dapat dipahami sebagai ekspresi dunia Lamaholot pesisir di wilayah Alor–Pantar, sedangkan Solor Watan Lema adalah pusat daratan dan asal spiritualnya.



Galiau menunjukkan bagaimana orang Lamaholot menyesuaikan struktur adatnya dengan realitas pesisir: perdagangan laut, pelayaran, hubungan antarkerajaan, dan interaksi dengan kekuatan luar. Sementara Solor Watan Lema tetap menjadi referensi identitas, Galiau menjadi wujud praksis politik dan ekonomi masyarakat Lamaholot di wilayah maritim.



Dalam perspektif ini, Galiau bukanlah entitas terpisah dari Lamaholot, melainkan perpanjangan sejarahnya. Apa yang dicatat Van Galen sebagai lima kerajaan pesisir sejatinya adalah dunia Lamaholot yang telah berkembang di Alor–Pantar, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa administrasi kolonial.


Dengan demikian, hubungan antara Solor Watan Lema dan Galiau dapat dirumuskan sebagai berikut: Solor Watan Lema adalah pusat asal-usul dan kosmologi Lamaholot, sedangkan Galiau adalah wajah maritim dan politiknya di kawasan Alor–Pantar. Keduanya terhubung oleh satu sejarah panjang migrasi, kekerabatan, dan sistem adat yang sama.


Narasi ini sekaligus menegaskan bahwa Vijf Kustrijken bukan ciptaan Belanda, melainkan pembacaan kolonial terhadap struktur sosial-politik lokal yang telah hidup ratusan tahun dalam peradaban Lamaholot.


Sumber Rujukan:

Van Galen, 1946. Memorie van Overgave betreffende de Alor-eilanden.(Dikutip dalam terjemahan dan anotasi oleh Hans Hägerdal).

Hägerdal, Hans (ed. & trans.).Van Galen’s Memorandum on the Alor Islands (1946): Translation, Analysis, and Interpretation of “Galiau / Vijf Kustrijken”.– Menjelaskan Galiau sebagai ikatan lima kerajaan pesisir dan konteks kolonialnya.

Literatur sejarah dan etnografi Lamaholot tentang:

Konsep Watan Lema

Solor sebagai pusat asal-usul Lamaholot

Tradisi migrasi Solor–Adonara–Lembata–Alor–Pantar

Tradisi lisan masyarakat Lamaholot di Solor, Adonara, Lembata, Alor, dan Pantar, yang menempatkan Solor sebagai ina ama (tanah ibu-bapak) dan sumber tatanan adat.