Governor of NTT: “One Year of Leadership Is a Struggle”




Kupang, February 23, 2026 — Emanuel Melkiades Laka Lena emphasized that his first year in office has been a major struggle to lay down a clear and measurable foundation for regional development in Nusa Tenggara Timur.


“If I had to describe this year in one word, it would be: struggle,” he stated firmly.


He delivered this message during an exclusive podcast interview titled “One Year of Leadership: Achievements, Challenges, and the Direction of NTT’s Development”, held at the Victory Talk Podcast Room of Victory News on Monday afternoon (23/2/2026). The session followed his symbolic inauguration of the first Victory Talk podcast, marked by a ribbon-cutting ceremony.



Upon arrival, the Governor was warmly welcomed by Editor-in-Chief Stevie Johanes, Politics and Security Editor Kekson Salukh, Online Editor Yance Jengamal, Podcast Host Beverly Rambu, and the editorial team of Victory News Media Network.



According to him, the “struggle” is reflected in the concrete actions taken throughout the year. One of the key achievements is the launch of 100,000 BPJS Ketenagakerjaan beneficiary slots for vulnerable workers in the province.



“The NTT Provincial Government and BPJS Ketenagakerjaan launched social security protection for 100,000 vulnerable workers from poor and extremely poor families—who previously received no social protection,” he explained.



In the agricultural sector, he highlighted a significant achievement: an increase of one million tons of dry unhusked rice.

“This increase helped boost rice production. Through our collective efforts, NTT received the 2025 National Food Self-Sufficiency Award from the Ministry of Agriculture of the Republic of Indonesia. This is the starting foundation toward regional food sovereignty,” he said.



He also stressed the importance of good governance and the essential role of civil servants in implementing the 10 Dasa Cita programs. He reiterated that the bureaucracy must move in sync with leadership.



“The engine of development is the bureaucracy. Execution must be aligned. Every program and budget must be measurable. Through the cascading system, we will strengthen discipline so the presence of civil servants is truly felt in public services,” he said.



To accelerate development, the provincial government plans to establish five acceleration teams focusing on increasing regional revenue, poverty reduction, community-based economic development, Dasa Cita optimization, and government communication.



Regarding local economic strengthening, he reaffirmed the continuation of the One Village One Product (OVOP) program and NTT Mart as part of the regional economic ecosystem. The approach prioritizes Capital, Assistance, and Market access, with People’s Business Credit (KUR) serving as an essential financing tool.



“Production must be supported by healthy distribution between capital, KUR, and profit. The market access is provided through NTT Mart,” he added.

On poverty issues, the Governor acknowledged potential data discrepancies and established a special team to clean and validate poverty data.



“Manipulating aid data is a form of corruption. We have begun cleaning and separating data so interventions truly reach the right targets,” he affirmed.



In the fiscal sector, the province targets a regional revenue (PAD) of Rp 2.8 trillion. Strengthening the economic ecosystem remains the primary strategy.

“KUR distributed by banks will be jointly managed as capital to drive entrepreneurship. We will continue improving regional-owned enterprises and optimizing assets, including ensuring that the Bolok Industrial Area begins generating returns next year,” he said.



Addressing public concerns regarding the high number of rabies-related deaths, the Governor explained that its impact extends beyond fatalities, affecting public safety, economic activity, tourism, and overall social life.



“We must be firm and rational. Animals that can still be treated and vaccinated should be cared for, but those confirmed positive and endangering public safety must be eliminated according to procedure. Human safety is the top priority,” he urged.



He added that communities must also be educated to treat animals responsibly, emphasizing proper care, mass vaccination, sterilization, population monitoring, and movement control.



“We can learn from the COVID-19 pandemic. If an area or animal is suspected of rabies, controlled movement restriction or an ‘animal lockdown’ is necessary. With consistent measures for one to two months, transmission can be significantly reduced or even eliminated,” he added.

Stunting reduction remains another priority. He emphasized monitoring from adolescence through family-level health education.


“Family planning is the foundation of human development. A strong family foundation—economically, mentally, and educationally—will produce healthier, more educated, and productive generations. Strong families build a strong society, and a strong society strengthens the region,” he said.


In education, he emphasized a system that promotes freedom while maintaining discipline and quality standards.


“The education system must free students to learn but remain firm in upholding quality. If a child has not achieved competence, disciplined guidance is needed, along with teacher quality improvements, better facilities, honest evaluation, and reorganized study hours so children have time for family and spiritual growth,” he said.


Discussing preparations for the 2028 multi-sport event, he noted that NTT and West Nusa Tenggara (NTB) as hosts aim for 37 gold medals. Beyond that, the event must deliver five key successes: success in performance, organization, administration, tourism, and economic impact.

As part of this commitment, the government has allocated around Rp 250 billion for preparations, including renovation and improvement of sports facilities.


Indonesia versi 


Gubernur NTT: "Satu Tahun Kepemimpinan adalah Perjuangan"


Kupang, 23 Februari 2026,- Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa satu tahun masa kepemimpinannya merupakan sebuah perjuangan besar dalam meletakkan fondasi pembangunan yang terarah dan terukur.


“Kalau ditanya satu kata untuk satu tahun ini, saya jawab: perjuangan,” tegas Gubernur.


Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara eksklusif podcast “Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur NTT: Capaian, Tantangan, dan Arah Pembangunan ke Depan” yang digelar di Ruang Podcast Victory Talk, Kantor Victory News, Kupang, pada Senin (23/2/2026) sore, usai secara simbolis meresmikan podcast perdana Victory Talk yang ditandai dengan pengguntingan pita.


Sebelumnya, kedatangan Gubernur Melki di Kantor Redaksi Victory News diterima dengan hangat oleh Pemimpin Redaksi Victory News, Stevie Johanes, Redaktur Politik dan Keamanan, Kekson Salukh, Redaktur Online, Yance Jengamal, Host Podcast, Beverly Rambu, serta jajaran redaksi Victory News Media Network. 


Menurutnya, perjuangan tersebut terlihat dari berbagai langkah konkret yang telah dijalankan. Ia menyebut salah satu program konkrit yang telah terlaksana adalah peluncuran 100 ribu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan di Pemerintah Provinsi NTT.


“Pemerintah Provinsi NTT bersama BPJS Ketenagakerjaan meluncurkan perlindungan jaminan sosial bagi 100 ribu pekerja rentan dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Mereka selama ini belum tersentuh perlindungan jaminan sosial,” jelasnya.


Selanjutnya, di sektor pertanian, Gubernur mengatakan, terdapat capaian signifikan dengan peningkatan produksi sebesar 1 juta ton gabah kering. 


“Ada peningkatan 1 juta ton gabah kering yang mendorong kenaikan produksi beras. Atas kerja bersama ini, NTT memperoleh Penghargaan Swasembada Pangan Nasional (PIN) 2025 dari Kementerian Pertanian RI. Ini fondasi awal menuju kedaulatan pangan daerah,” ujarnya.


Sementara itu, Ia turut menekankan pentingnya  tata kelola pemerintahan dan peran penting ASN dalam menjalankan 10 Program Dasa Cita. Ia menegaskan birokrasi harus selaras dan bergerak seirama dengan pimpinan.


“Mesin pendorong pembangunan adalah birokrasi. Eksekusinya harus sejalan. Semua program dan anggaran harus terukur. Melalui sistem cascading, kita akan semakin tegas dalam disiplin agar kehadiran ASN benar-benar terasa dalam memberikan pelayanan publik,” katanya.


Lebih lanjut, Ia menyebut bahwa untuk mempercepat akselerasi pembangunan, Pemerintah Provinsi NTT akan membentuk lima tim percepatan yang berfokus pada optimalisasi PAD, penanggulangan kemiskinan, pengembangan ekonomi kerakyatan, optimalisasi Dasa Cita, dan komunikasi pemerintah.


Dalam penguatan ekonomi lokal, Gubernur menegaskan keberlanjutan program One Village One Product (OVOP) dan NTT Mart sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah. Ia menekankan pendekatan Modal, Pendampingan, dan Pasar. Dari sisi permodalan, Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu instrumen penting yang disertai pendampingan, serta literasi keuangan secara berkelanjutan.


“Produksi harus diikuti pembagian yang sehat antara modal, KUR, dan keuntungan. Pasarnya melalui NTT Mart,” jelasnya.


Terkait kemiskinan, Gubernur mengakui masih adanya potensi bias data dan telah membentuk tim khusus untuk membersihkan serta memvalidasi data.


“Permainan data bantuan itu termasuk tindakan korupsi. Kita mulai membersihkan dan memisahkan data agar intervensi benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.


Di sektor fiskal, Pemerintah Provinsi menargetkan PAD sebesar Rp. 2,8 triliun. Gubernur menilai penguatan ekosistem ekonomi menjadi solusi utama.


“KUR oleh perbankan akan kita kelola bersama menjadi modal menggerakkan wirausaha. Kita pastikan pembenahan BUMD dan optimalisasi aset daerah terus dilakukan, termasuk memastikan Kawasan Industri Bolok mulai memberikan keuntungan pada tahun depan," ujarnya. 


Selanjutnya, dalam bidang kesehatan, menjawab pertanyaan terkait tingginya angka kematian akibat rabies. Gubernur mengatakan dampak yang dihasilkan tidak hanya pada korban jiwa, tetapi juga secara tidak langsung memengaruhi rasa aman masyarakat, aktivitas ekonomi, pariwisata, hingga kehidupan sosial di daerah.


"Karena itu, kita harus bersikap tegas dan rasional. Dalam penanganan rabies, opsinya jelas: hewan yang masih bisa disembuhkan dan divaksin harus dirawat, tetapi hewan yang positif dan membahayakan keselamatan publik harus dieliminasi sesuai prosedur. Keselamatan manusia adalah prioritas utama," himbaunya.


Di sisi lain, Ia menyebut bahwa masyarakat juga harus diedukasi untuk memperlakukan hewan dengan baik dan bertanggung jawab. Pemeliharaan hewan tidak boleh sembarangan. Inovasi harus diperkuat, terutama melalui vaksinasi massal, sterilisasi, pendataan populasi, dan pengawasan pergerakan hewan.


"Kita juga bisa belajar dari pengalaman saat pandemi covid-19. Jika ada wilayah atau hewan yang terindikasi rabies, maka perlu langkah pembatasan atau “lockdown” hewan secara terukur - membatasi mobilitas, melakukan karantina, dan pengawasan ketat. Jika gerakan ini dilakukan secara tertib dan konsisten selama satu hingga dua bulan, maka penularan bisa ditekan secara signifikan, bahkan berpotensi dieliminasi," tambahnya.


Lebih lanjut, Gubernur Melki mengatakan percepatan penurunan stunting menjadi perhatian tersendiri. Menurutnya hal ini harus dipantau dari masa remaja termasuk dalam hal edukasi kesehatan dan dimulai dari keluarga.


"Perencanaan keluarga adalah fondasi pembangunan manusia. Tidak ada perencanaan yang lebih kuat dari keluarga. Karena itu, membangun keluarga tidak boleh terjadi tanpa kesiapan. Sejak awal, orang tua, tokoh masyarakat, dan tokoh agama perlu membangun pola pikir bahwa membentuk keluarga harus dipersiapkan secara matang - baik secara ekonomi, mental, kesehatan, maupun pendidikan. Keluarga yang direncanakan dengan baik akan melahirkan generasi yang lebih sehat, terdidik, dan produktif. Jika keluarga kuat, maka masyarakat kuat. Jika masyarakat kuat, maka daerah pun akan kuat," urai Gubernur Melki.


Sementara di bidang pendidikan, Gubernur menekankan sistem yang memerdekakan namun tetap tegas dalam disiplin dan evaluasi.


“Sistem pendidikan harus memerdekakan namun tetap tegas dalam menjaga standar kualitas; jika anak belum mencapai kompetensi, perlu pembinaan yang disiplin, disertai perbaikan kualitas guru, sarana prasarana, dan evaluasi yang jujur, serta penataan ulang jam belajar agar anak memiliki waktu bersama keluarga dan doa sebagai fondasi karakter,” katanya.


Kemudian, membahas persiapan NTT bersama NTB sebagai tuan rumah PON XXII/2028. Ia menyebut, Pemerintah menargetkan 37 medali emas sebagai capaian prestasi. Namun lebih dari itu, PON harus menghadirkan “lima sukses”, yakni sukses prestasi, sukses penyelenggaraan, sukses administrasi, sukses pariwisata, dan sukses ekonomi. Dampaknya harus benar-benar dirasakan masyarakat.


"Sebagai bentuk komitmen, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp. 250 miliar untuk mendukung persiapan, termasuk renovasi dan peningkatan sarana prasarana olahraga. Dengan pola kolaboratif tersebut, pemerintah optimistis PON akan berlangsung meriah, tertib, dan dinikmati masyarakat luas, sekaligus menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah," tegasnya.


Menutup wawancara, Gubernur mengajak masyarakat untuk memberikan kritik yang logis dan konstruktif serta tidak menyebarkan hoaks.


“Dengan semangat gotong royong, saya optimistis NTT bisa mencapai target yang kita tetapkan,” pungkasnya. (*) 


“We are optimistic the event will be festive, orderly, and widely enjoyed, while generating a multiplier effect for the regional economy,” he asserted.

Closing the interview, the Governor encouraged the public to provide logical and constructive criticism and avoid spreading hoaxes.


“With the spirit of mutual cooperation, I am optimistic that NTT can achieve the goals we have set,” he concluded.