Kisah Dua Nelayan Sikka 7 Hari Tanpa Makan, Terdampar di Kiraman





Zonalinenews -  Kalabahi,- Minggu 8 Februari 2026, Saat menceritakan pengalaman tujuh hari terombang-ambing di lautan kepada Staf Ahli Gubernur NTT Linus Nusi dan jajaran pemerintah daerah, suasana ruang perawatan RSUD Kalabahi mendadak hening. Dua nelayan asal Sikka itu berbicara lirih, mengisahkan perjuangan bertahan hidup tanpa makan dan air, hanya dengan doa dan harapan.


Kedua nelayan tersebut adalah Anwar Mahmud (35) dan Norisius Sapa (31), warga Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Mereka ditemukan selamat setelah terdampar di pesisir Desa Kiraman, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, usai hanyut selama tujuh hari tujuh malam di laut lepas.


Peristiwa bermula ketika keduanya melaut menuju rumpon menggunakan perahu motor 35 PK. Namun baling-baling mesin terlepas sehingga perahu kehilangan kendali dan hanyut terbawa arus.


Bekal makanan yang dibawa hanya cukup beberapa hari. Setelah habis, mereka bertahan hanya dengan menampung air hujan di terpal.


“Kami tidak makan. Bekal habis, sisanya basi. Jadi cuma minum air hujan,” tutur salah satu korban.


Sesekali mereka terpaksa meneguk air laut. Bahkan mereka turun berenang untuk mengikat kembali tali perahu yang terlepas.


Harapan sempat muncul saat sebuah kapal tanker melintas. Mereka membakar pakaian dan mengikatnya di dayung sebagai tanda darurat. Namun kapal tetap berlalu.


“Kami pikir akan terdampar di Sumba atau Bima. Ternyata Tuhan bawa kami ke Kiraman,” ujarnya.


Dengan sisa tenaga, keduanya akhirnya mendayung perlahan hingga melihat daratan.


Warga Desa Kiraman yang pertama kali menemukan korban langsung memberikan pertolongan. Dalam kondisi lemas dan dehidrasi, 

keduanya ditampung sementara di rumah Kepala Desa Kiraman sebelum dijemput tim evakuasi.


Solidaritas warga menjadi penyelamat pertama sebelum bantuan pemerintah tiba.


Informasi penemuan korban segera diteruskan secara berjenjang. Gubernur dan Wakil Gubernur NTT menghubungi Bupati Sikka, yang kemudian berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati Alor.

Arahan tersebut ditindaklanjuti oleh PJ Sekda Alor Obeth Bolang dengan memerintahkan BPBD berkoordinasi bersama Basarnas, TNI-Polri, Camat Alor Selatan, dan Pemerintah Desa Kiraman untuk melakukan penjemputan.


Tim BPBD akhirnya mengevakuasi korban pada Minggu (1/2/2026) pukul 16.25 WITA dan membawa mereka ke RSUD Kalabahi untuk perawatan intensif.


Di rumah sakit, kedua nelayan mendapat pemeriksaan lengkap dan dirawat di ruang VIP oleh tim medis hingga kondisi kesehatan berangsur stabil.


PJ Sekda Alor Obeth Bolang mengatakan pemerintah bergerak cepat demi keselamatan korban.


“Begitu mendapat laporan, kami langsung berkoordinasi dengan semua unsur untuk menjemput dan membawa mereka ke RSUD. 


Syukur, kondisi keduanya kini membaik,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi masyarakat Kiraman dan Ikatan Keluarga Besar Maumere di Kalabahi atas kepedulian dan semangat kekeluargaan.


“Mereka datang sebagai orang asing, tapi diperlakukan seperti saudara sendiri. Inilah wajah kemanusiaan orang Alor,” tambahnya.


Setelah dinyatakan sehat, Pemerintah Kabupaten Alor secara resmi melepas pemulangan keduanya pada Jumat, 6 Februari 2026, di Aula Rumah Jabatan Bupati Alor.


Acara dipimpin langsung oleh PJ Sekda Obeth Bolang dan dihadiri Kapolres Alor, TNI AL, Basarnas, BPBD, OPD terkait, serta Paguyuban Keluarga Besar Maumere.


Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Alor menyerahkan dua unit bodi motor serta memastikan pendampingan hingga mereka tiba di kampung halaman di Paga.


Sementara itu, Plt. Kadis Sosial Sikka Kristian Amstrong menyampaikan terima kasih kepada Pemdes Kiraman, warga penolong pertama, Camat dan Kapolsek Alor Selatan, Basarnas, BPBD Alor, serta RSUD Kalabahi.


“Apa yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Alor adalah tindakan mulia. Ini persaudaraan yang tulus,” ungkapnya.


Perahu motor yang hanyut dan terdampar di Kiraman pun menjadi simbol dan kenangan perjalanan panjang mereka dari ancaman maut hingga akhirnya kembali pulang dengan selamat.


Tujuh hari di lautan telah menguji fisik dan mental mereka. Namun solidaritas warga dan respons cepat pemerintah lintas daerah memastikan keduanya kembali ke pelukan keluarga.


Kiraman bukan hanya tempat mereka terdampar, tetapi menjadi titik pulang. Di sanalah tangan-tangan kemanusiaan bekerja, pemerintah bergerak, dan persaudaraan lintas pulau menyelamatkan dua nyawa. Dari Alor, mereka kembali ke Paga membawa satu cerita: bahwa Tuhan, laut, dan sesama manusia masih menjaga mereka.( #Aty)