KUPANG – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Timur (Muhammadiyah) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Tahun 2026 dengan tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” di Aula Gedung G Kampus Muhammadiyah Kupang di Kupang, Sabtu, 14 Februari 2026.
Forum ini menjadi ajang strategis untuk merumuskan dan menetapkan program kerja selama masa kepemimpinan berjalan di Nusa Tenggara Timur.
Rakerwil dihadiri lebih dari 60 peserta yang terdiri atas unsur pimpinan wilayah, ketua dan sekretaris majelis serta lembaga, 14 perwakilan organisasi otonom tingkat wilayah, serta perwakilan Amal Usaha Muhammadiyah sebagai peserta peninjau.
Ketua Panitia Pelaksana, Ahmad Syarif, SE, SH, MH, M.Hum., menjelaskan bahwa Rakerwil merupakan amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang mengatur bahwa rapat kerja wilayah dilaksanakan minimal satu kali dalam setahun.
“Rakerwil ini menjadi momentum penting untuk membahas dan menyepakati program kerja setahun ke depan, khususnya target jangka pendek yang realistis dan dapat dilaksanakan,” ujarnya.
Ia menegaskan setiap majelis dan lembaga diharapkan mampu melaksanakan minimal satu program kerja dalam satu tahun. Menjelang bulan Ramadan, majelis yang membidangi tabligh juga didorong untuk mengintensifkan kegiatan dakwah dan sosial keagamaan.
Agenda Rakerwil difokuskan pada dua hal utama: pembahasan program melalui komisi-komisi dan pleno penetapan keputusan. Hasil pleno akan didistribusikan kepada seluruh majelis dan lembaga sebagai pedoman pelaksanaan program.
Ketua PWM NTT, Mukhsin, S.Ag., MH., dalam arahannya menekankan pentingnya orientasi Muhammadiyah berkemajuan yang inklusif, humanis, dan relevan dengan tantangan zaman.
“Pilar dakwah Muhammadiyah mencakup pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Karena itu, pendekatan dakwah harus inklusif dan solutif, meninggalkan pola lama yang tidak produktif,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa kepengurusan tersisa dua tahun sehingga seluruh program harus dirancang secara fokus, terukur, dan dapat dievaluasi.
Perkuat Struktur dan Integritas Organisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Mukhsin menyoroti pentingnya penguatan kolektif-kolegial serta sinergi antarstruktur, mulai dari wilayah, daerah, cabang, hingga ranting. Pembentukan dan penguatan ranting dinilai menjadi salah satu indikator kesehatan organisasi.
“Keberhasilan adalah keberhasilan bersama. Hilangkan ego sektoral dan perkuat sinergi,” ujarnya.
Ia juga menekankan peningkatan integritas sumber daya manusia, yang menurutnya berarti keselarasan antara ucapan dan perbuatan dalam menjalankan amanah organisasi.
Menutup arahannya, Mukhsin mengajak seluruh kader untuk menghidupkan Muhammadiyah dengan keikhlasan dan semangat pengabdian.
“Siapa lagi kalau bukan kita yang membesarkan Muhammadiyah di NTT. Muhammadiyah besar, dan tugas kita menjadikannya semakin kuat dan bermanfaat bagi masyarakat,” tandasnya. (*)
