KUPANG, 7 Februari 2026 — Cahaya dari 1000 lilin perlahan memenuhi kawasan Patung Tirosa, Sabtu malam pukul 20.00 Wita. Dalam keheningan yang nyaris bisa “didengar”, ratusan anak muda dari berbagai komunitas berkumpul untuk menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang merenggut nyawa Yohanes Bastian Roja, seorang adik kecil yang kepergiannya menggetarkan nurani masyarakat Kota Kupang.
Aksi yang digagas oleh Generasi Solidaritas (Gen-Z) ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah panggilan batin. Daud Weildson N, Koordinator Umum kegiatan sekaligus Ketua Gen-Z, berdiri di depan barisan lilin yang mulai menyala satu per satu. Suaranya bergetar saat ia menyampaikan pesan pembuka.
“Kematian adik kita ini adalah lonceng bagi nurani kita semua jika kita memilih diam,” ujarnya, menahan haru.“Ini bukan waktunya saling menyalahkan. Ini waktunya kita berjanji pada diri kita masing-masing bahwa hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi.”
Daud mengajak seluruh yang hadir untuk tidak membiarkan tragedi tersebut menguap sebagai berita sesaat. Ia menegaskan bahwa setiap air mata seorang ibu memiliki makna yang tidak boleh dilupakan.
“Jangan biarkan air mata ibunya hilang begitu saja. Jangan biarkan tragedi ini hanya menjadi angka dalam laporan yang esok dilupakan,” katanya.
Dalam suasana yang dipenuhi isak tertahan, Daud lalu menyampaikan salam perpisahan untuk Yohanes.
“Selamat jalan, Adikku. Maafkan kami yang terlambat mendengar jeritanmu. Maafkan bangsa ini yang terlalu sibuk mengejar hal besar sampai lupa memastikan tanganmu bisa menggenggam pena,” ucapnya sambil menyeka air mata.“Tidurlah dengan tenang. Tidak ada lagi tagihan buku di sana. Kau bisa menuliskan mimpimu tanpa rasa takut kehabisan tinta. Sekali lagi, maafkan kami.”
Aksi ini dihadiri oleh berbagai organisasi yang menunjukkan solidaritas lintas komunitas, antara lain Generasi Solidaritas (Gen-Z), BEM Nusantara Kupang, Garda Triple X Flobamora NTT, Laskar Timor Indonesia, Persatuan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) DPC Kota Kupang, serta Pemuda Liliba. Kekompakan mereka menggambarkan kepedulian bahwa masa depan generasi muda tidak boleh lagi direnggut oleh kelalaian atau ketidakpedulian.
Seribu lilin itu akhirnya padam perlahan, namun harapannya tidak. Malam itu, Kota Kupang menjadi saksi bahwa sekelompok anak muda memilih untuk tidak tinggal diam — dan dari tangan merekalah janji perubahan kembali dinyalakan.(*)
