![]() |
| Caption : Foto bersama Tim ITB, perwakilan dari Desa Wolomoze dan tim BUMDes Maju Bersama, Desa Inegena di depan rumah produksi kemiri dan solar dome dryer. |
NGADA – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 6 Juli 2026.
Kegiatan tersebut berupa pelatihan penanganan pascapanen kemiri sekaligus penyerahan hibah mesin pemecah kulit biji kemiri kepada masyarakat sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Tim pengabdian dipimpin oleh Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., dengan anggota Dr. Ir. Rijanti Rahaju Maulani, S.P., M.Si. dan Dr. rer. nat. Widodo, S.T., M.T.. Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa ITB, yaitu Yosua Kevin Siahaan, Gavriel Reynard Nathanael, dan Naila Reevaliyah Parsa, yang turut mendampingi seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pelatihan hingga studi banding bersama masyarakat.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, pada 7 Juli 2026 tim ITB mengajak enam perwakilan Desa Wolomeze yang terdiri atas perangkat desa, Ketua BUMDes, dan Ketua BPD melakukan studi banding ke Desa Inegena, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada. Desa Inegena dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pengelolaan usaha kemiri melalui BUMDes yang telah mengembangkan pengolahan dan pemasaran produk hingga menjangkau pasar yang lebih luas.
Menurut Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB, Prof. Endah Sulistyawati, kunjungan tersebut merupakan bagian penting dari proses pemberdayaan masyarakat.
"Kami ingin masyarakat melihat secara langsung bahwa usaha kemiri dapat berkembang apabila dikelola dengan baik, mulai dari penguatan kelembagaan BUMDes, proses produksi, hingga pemasaran. Harapannya tumbuh optimisme bahwa hal serupa juga dapat diwujudkan di Wolomeze," ujarnya.
Rombongan disambut oleh Kepala Desa Inegena, Wilfridus Welo Ngala, beserta jajaran pengurus BUMDes Maju Bersama. Dalam suasana diskusi yang hangat, kedua BUMDes saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan kelembagaan, administrasi usaha, strategi pemasaran, serta tantangan dan peluang pengembangan ekonomi desa berbasis komoditas lokal.
Selain berdiskusi, perwakilan Desa Wolomeze juga berkesempatan menyaksikan secara langsung seluruh proses pengolahan kemiri di rumah produksi BUMDes Inegena, mulai dari penyimpanan bahan baku, proses pemecahan menggunakan mesin, pemisahan inti kemiri dari cangkangnya, hingga sortasi produk siap jual. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana komoditas lokal dapat dikelola secara profesional sehingga mampu memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi masyarakat.
Prof. Endah menambahkan bahwa pembelajaran lapangan seperti ini sering kali lebih efektif dibandingkan penyampaian materi di ruang pelatihan karena peserta dapat melihat secara langsung praktik yang telah berhasil diterapkan. Melalui kombinasi pelatihan teknis di Desa Wolomeze dan kunjungan pembelajaran ke Desa Inegena, ITB berharap BUMDes Wolomeze memperoleh bekal yang cukup untuk mulai mengembangkan usaha kemiri secara lebih profesional dan berkelanjutan. (*)
