KUPANG — Setelah bertahun-tahun berada dalam kondisi tidak produktif dan dibayangi berbagai persoalan tata kelola, PT Flobamor (Perseroda) mulai menata kembali arah bisnisnya. Badan usaha milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu kini memusatkan perhatian pada tiga sektor strategis, yakni perhotelan, transportasi laut, dan pengembangan pasar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Manajemen baru Flobamor menargetkan 2026 menjadi momentum kebangkitan perusahaan. Fokus tersebut merupakan bagian dari sejumlah rencana usaha yang telah mendapat persetujuan Pemerintah Provinsi NTT dan DPRD NTT.
Direktur Keuangan dan Operasional PT Flobamor, Maxi Julians Rihi Dara, mengatakan perusahaan saat ini tengah membangun fondasi bisnis yang lebih sehat melalui optimalisasi aset dan pembenahan tata kelola.
“Kami ingin memastikan Flobamor mampu menutup tahun buku 2026 dengan kinerja yang lebih baik dan tidak lagi mengalami defisit,” ujarnya.
Kembali Kelola Hotel Sasando
Salah satu langkah awal Flobamor adalah mengambil alih kembali pengelolaan Hotel Sasando di Kota Kupang. Hotel milik Pemerintah Provinsi NTT tersebut merupakan salah satu aset strategis yang diharapkan kembali memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Direktur Pengembangan Usaha PT Flobamor, Yose Rizal, mengatakan pembenahan Hotel Sasando tidak hanya menyasar aspek manajemen, tetapi juga diarahkan untuk membangun ekosistem pariwisata di Kota Kupang melalui kegiatan kreatif dan promosi destinasi.
“Hotel Sasando memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat NTT. Kami ingin mengembalikan daya tariknya sekaligus menjadikannya bagian dari penggerak sektor pariwisata daerah,” katanya.
Saat ini, tim transisi melakukan pendataan ulang fasilitas sekaligus memastikan seluruh layanan hotel dapat beroperasi secara optimal. Dialog dengan karyawan juga terus dilakukan untuk menyerap masukan dalam proses transformasi perusahaan.
Hidupkan Kembali Bisnis Pelayaran
Selain perhotelan, Flobamor kembali menghidupkan bisnis pelayaran yang sebelumnya menghadapi berbagai kendala.
Melalui pengoperasian KMP Sasando, perusahaan menargetkan peningkatan konektivitas antara Kota Kupang dan Pulau Semau. Kapal berkapasitas 76 penumpang tersebut direncanakan melayani rute Kupang-Semau hingga delapan kali dalam sehari.
Layanan tersebut diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat, pelajar, pegawai, maupun pelaku usaha yang selama ini bergantung pada transportasi laut.
Direktur Pengadaan Barang dan Jasa PT Flobamor, Frans Bata, menegaskan bahwa pengelolaan sektor pelayaran akan menerapkan sistem digital untuk meningkatkan transparansi sekaligus mencegah kebocoran pendapatan yang pernah terjadi sebelumnya.
“Pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran penting. Karena itu seluruh transaksi dan pengelolaan keuangan akan dilakukan secara lebih akuntabel dan berbasis digital,” ujarnya.
NTT Mart Jadi Etalase UMKM
Pilar ketiga yang menjadi andalan Flobamor adalah pengembangan NTT Mart sebagai etalase produk unggulan UMKM daerah.
Tiga gerai baru NTT Mart dijadwalkan mulai beroperasi pada September 2026 di sejumlah titik strategis di Kota Kupang.
Direktur Ekonomi Kerakyatan PT Flobamor, Leonardo A.R. Waleng, mengatakan program tersebut dirancang untuk memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan yang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan telah melakukan kurasi terhadap berbagai produk lokal untuk meningkatkan kualitas dan daya saingnya.
“Produk UMKM NTT memiliki potensi besar. Tantangannya adalah memastikan kualitas dan akses pasar sehingga mampu bersaing di tingkat nasional,” katanya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Flobamor juga menggagas pembangunan laboratorium pangan atau Food Lab bekerja sama dengan Uma Kanaru Institute. Fasilitas itu nantinya diharapkan membantu pengujian kualitas, keamanan pangan, hingga proses sertifikasi produk UMKM.
Kewajiban Masa Lalu Tetap Jadi Pekerjaan Rumah
Di tengah rencana ekspansi bisnis, manajemen Flobamor menyadari masih terdapat sejumlah persoalan lama yang harus diselesaikan. Salah satunya kewajiban perusahaan kepada mantan anak buah kapal (ABK) KMP Sirung dan KMP Pulau Sabu yang hingga kini masih menunggu penyelesaian hak-haknya.
Direktur Utama PT Flobamor, Dominggus Elcid Li, menegaskan perusahaan berkomitmen menyelesaikan kewajiban tersebut secara bertahap sesuai kemampuan keuangan perusahaan dan ketentuan peraturan daerah yang berlaku.
Menurut Elcid, keberhasilan transformasi bisnis menjadi kunci untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan sekaligus memenuhi tanggung jawab terhadap para pekerja yang terdampak persoalan pada periode sebelumnya.
“Flobamor harus kembali menghasilkan keuntungan agar mampu menyelesaikan berbagai kewajiban masa lalu dan membangun masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Dengan fokus pada optimalisasi aset, penguatan tata kelola, pengembangan transportasi laut, revitalisasi perhotelan, serta perluasan pasar UMKM, Flobamor kini mencoba membuka babak baru. Tahun 2026 diharapkan bukan sekadar menjadi tahun pembenahan, tetapi awal bagi perusahaan daerah tersebut untuk kembali produktif dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan NTT.(*)
