KOTA KUPANG — Di tengah Kota Kupang yang terus tumbuh, ada warga yang masih harus berdamai dengan jalan tanah.
Setiap kendaraan yang melintas di Jalan Usaepkolen, RT 07/RW 03, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, membawa persoalan yang sama: debu pada musim kemarau dan lumpur ketika hujan.
Jalan sepanjang sekitar dua kilometer itu belum tersentuh pengaspalan secara menyeluruh. Padahal, badan jalan selebar sekitar lima meter telah dibuka dan dibebaskan secara swadaya oleh warga sejak 2019.
Pemandangan di ruas itu memperlihatkan kontras pembangunan kota. Rumah-rumah warga berdiri di kiri-kanan jalan, kendaraan lalu-lalang, anak-anak berangkat sekolah, dan aktivitas ekonomi berlangsung setiap hari. Namun, jalan yang menjadi urat nadi mobilitas warga masih berupa tanah bercampur batu dan lubang.
Pertanyaan warga sederhana: sampai kapan mereka harus menunggu aspal?
Bagi warga, jalan bukan sekadar permukaan yang harus dibuat mulus. Jalan menentukan apakah anak-anak dapat pergi dan pulang sekolah dengan nyaman, apakah warga mudah menuju tempat kerja dan pasar, hingga seberapa cepat kendaraan dapat membawa orang sakit ke fasilitas kesehatan.
Pada musim hujan, persoalan menjadi lebih serius. Permukaan jalan yang licin dan berlumpur membuat kendaraan harus bergerak perlahan. Sebaliknya, ketika kemarau, debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas dan mengganggu rumah-rumah di sepanjang jalan.
Empat titik lampu penerangan jalan di wilayah tersebut juga dilaporkan telah padam sekitar satu tahun. Warga mengaku persoalan itu sudah disampaikan ke pihak kelurahan, tetapi belum ada tindak lanjut.
Beberapa warga Sipri Simo, Nolan Hala, dan Yoan Muda mengatakan kondisi jalan paling terasa menyulitkan ketika hujan. Jalan menjadi berlumpur dan licin. Saat kemarau, debu menjadi persoalan lain yang harus mereka hadapi setiap hari.
Keluhan serupa disampaikan Jefri Sene, warga yang setiap hari mengantar anaknya ke sekolah. Kondisi jalan, menurut dia, membuat perjalanan lebih sulit, terutama ketika hujan.
Persoalan itu tidak berhenti pada kenyamanan. Jalan yang rusak dan berlubang juga membuat kendaraan harus lebih berhati-hati. Bagi warga yang menggunakan kendaraan setiap hari, kondisi tersebut berarti waktu tempuh lebih lama dan risiko kerusakan kendaraan lebih besar.
Lurah Bello melalui Ketua RW 003 Kelurahan Bello, Goris Takene, mengatakan persoalan Jalan Usaepkolen bukan baru muncul. Usulan perbaikan jalan telah beberapa kali disampaikan dalam musyawarah tingkat kelurahan.
Menurut Goris, warga membuka dan membebaskan lahan jalan secara swadaya sejak 2019. Corinus Tuan bersama sejumlah keluarga pemilik tanah turut memberikan ruang sehingga akses tersebut dapat dibuka untuk kepentingan masyarakat.
"Jalan ini sudah kami usulkan dalam musyawarah tingkat kelurahan beberapa kali. Tahun 2023 dan terakhir tahun 2025 kami kembali mengusulkan agar jalan ini diaspal, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," kata Goris.
Bagi warga, penantian itu terasa panjang. Mereka sudah membuka aksesnya sendiri, tetapi pembangunan infrastrukturnya masih menunggu keputusan pemerintah.
Ironisnya, persoalan akses jalan juga terjadi pada sejumlah ruas lain di lingkungan tersebut. Sebagian ruas jalan disebut sudah diaspal sekitar 15 tahun lalu, tetapi belum pernah mendapat peningkatan sehingga kini mengalami kerusakan.
Goris berharap pemerintah tidak hanya melihat jalan dari panjang dan lebar ruasnya, tetapi juga dari manfaatnya bagi warga.
Jalan Usaepkolen, kata dia, bahkan berpotensi menjadi akses penghubung menuju Atonifui, Desa Oelomin, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang.
"Kalau akses ini diperbaiki, manfaatnya bukan hanya bagi warga RT 07 dan sekitarnya. Jalan ini juga berpotensi menjadi akses penghubung ke wilayah Oelomin," ujarnya.
Kisah Jalan Usaepkolen menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur dasar tidak selalu berada jauh dari pusat kota. Di wilayah yang secara administratif merupakan bagian dari Kota Kupang pun masih ada warga yang menunggu jalan layak.
Bagi pemerintah, jalan mungkin merupakan satu dari sekian banyak daftar usulan pembangunan. Bagi warga, jalan itu adalah akses sehari-hari.
Karena itu, warga tidak lagi sekadar berharap usulan mereka dicatat dalam musyawarah. Mereka membutuhkan kepastian: apakah jalan tersebut telah masuk perencanaan, kapan dapat dikerjakan, dan apa kendala yang membuat pengaspalan belum terealisasi.
Sekretaris Lurah Bello, Deni Pati, mengatakan pihak kelurahan akan memberikan penjelasan terkait kondisi dan usulan pembangunan jalan tersebut.
Warga Bello, mereka tidak sedang meminta jalan yang mewah. Mereka hanya ingin jalan yang layak dapat dilalui anak-anak ke sekolah tanpa harus menghindari lubang, kendaraan yang tidak terjebak lumpur ketika hujan, serta akses yang tidak berubah menjadi sumber debu setiap kali kemarau datang.
Di tengah kota yang terus membangun, bagi warga Jalan Usaepkolen Kelurahan Bello, aspal masih menjadi sesuatu yang dinanti-nanti.
Dan penantian itu sudah berlangsung sejak 2019. (*goe)
