KALABAHI, ZONALINE-NEWS.COM – Workshop Pemandu Museum dan Lomba Pemandu Museum antarpelajar tingkat SMA, MA, dan SMK se-Kabupaten Alor resmi dibuka Kamis, 13 Agustus 2026, bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Alor selaku penyelenggara kegiatan.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembekalan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, memahami kekayaan budaya daerah, sekaligus melatih keberanian dan kemampuan public speaking sebagai calon pemandu museum.
Asisten II Setda Alor, Rasyid Miran, S.P., M.M., mengatakan keberadaan pemandu museum dari kalangan pelajar sangat penting bagi Kabupaten Alor yang memiliki beragam corak budaya dan sejarah.
Menurut Rasyid, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk menjelaskan profil, sejarah, serta makna budaya Alor kepada para tamu dan wisatawan yang berkunjung.
Ia mencontohkan kunjungan Menteri Pertanian ke Kabupaten Alor belum lama ini yang disambut dengan berbagai pakaian adat tradisional, termasuk dari Pulau Pantar dan Abui.
“Ini juga memerlukan penjelasan dari pelaku budaya, khususnya generasi muda yang mampu menjelaskan profil budaya maupun sejarah kepada para tamu yang berkunjung,” ujar Rasyid.
Ia mengatakan Kabupaten Alor dikenal sebagai Pulau Persaudaraan dengan sejumlah keunikan budaya yang menjadi kekayaan daerah.
Karena itu, Rasyid berharap workshop dan lomba pemandu museum dapat menjadi salah satu pengungkit sektor budaya sekaligus pariwisata di Kabupaten Alor.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan tersebut juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap keberadaan Museum Seribu Moko, termasuk dukungan anggaran untuk perbaikan dua gedung museum.
“Museum Seribu Moko ini sangat identik dengan kehidupan budaya masyarakat Alor hingga saat ini. Karena itu, profesi pemandu museum maupun perlombaan bagi para pelajar memang harus dilaksanakan,” katanya.
Ia berharap para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkaya pengetahuan tentang sejarah dan budaya daerah.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Alor, Rasyid kemudian secara resmi membuka Workshop Pemandu Museum dan Lomba Pemandu Museum antarpelajar tingkat SMA, MA, dan SMK se-Kabupaten Alor.
Kepala Dinas: Workshop Jadi Pembekalan Sebelum Lomba
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Alor, Sophia B. Loro, S.Pd., M.M., mengatakan pelaksanaan workshop tahun ini merupakan tindak lanjut dari masukan peserta dan guru pendamping pada pelaksanaan lomba tahun sebelumnya.
Menurut Sophia, peserta dan guru pendamping sebelumnya mengusulkan agar para pelajar mendapatkan pembekalan terlebih dahulu sebelum mengikuti perlombaan.
“Tahun lalu ada banyak masukan dari peserta dan Bapak-Ibu Guru Pendamping agar anak-anak dibekali dulu sebelum lomba. Karena itu, tahun ini kami memprogramkan workshop selama dua hari dan langsung dilanjutkan dengan lomba,” jelas Sophia.
Ia mengatakan workshop tersebut memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk membuka wawasan, termasuk mengenai sejarah dan budaya Alor.
“Anak-anak sudah mulai dibuka wawasannya melalui materi yang diberikan, termasuk sejarah. Sarjana-sarjana seperti ini sangat susah kami dapat,” ujarnya.
Sophia menegaskan, keikutsertaan dalam lomba tidak semata-mata untuk mengejar kemenangan. Menurutnya, proses tersebut jauh lebih penting karena dapat melatih keberanian dan kemampuan peserta berbicara di depan publik.
“Saya waktu hari pertama membuka kegiatan workshop sudah bilang, datang untuk ikut workshop dilanjutkan dengan lomba. Datang ikut lomba itu untuk melatih kita public speaking, melatih kita keberanian untuk memandu,” katanya.
Ia berharap para kepala sekolah dan guru pendamping mengutus putra-putri terbaik untuk mengikuti kegiatan tersebut serta memberikan energi positif kepada peserta selama perlombaan.
Museum sebagai Pusat Edukasi dan Literasi Budaya
Sophia juga menekankan bahwa Museum Seribu Moko tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi harus menjadi pusat edukasi. (*)
